Kartu-Undangan-Murah

Kartu Undangan Murah

Kode:  KG 08
Ukuran:  21 x 30
Model:  Lipat 2
Bahan:  Ivory
Warna:  Satu Warna
Aksesoris:  Tanpa Aksesoris
Harga per 300:  2.500
Harga per 500:  2.350
Harga per 700:  2.200
Harga per 1000:  2.100
Harga per 1500:  1.650
 
Update Harga: 6-4-2017
Qty:
Minim 50 Undangan
NB
1. Harga untuk jumlah selain itu bisa ditanyakan ke admin,
2. Harga bisa berubah sesuai harga bahan, untuk harga yang terupdate bisa ditanyakan keadmin
3. Silahkan isi jumlah pesanan, admin akan mengkonfirmasi pesanan dalam waktu 1 x 24 jam, jika ada perubahan spesifikasi dan harga akan diinfokan terlebih dahulu sebelum transaksi

Kartu Undangan Murah,Kartu Undangan Unik Jakarta,Undangan Pernikahan Menggunakan Bahasa Sunda,Pesan Kertas Undangan Kosong.

Undangan pernikahan ini merupakan undangan yang bertema jawa. Dapat dilihat dari covernya yang ditambahkan gambar sepasang wayang di bagian bawahnya. Pada bagian atas ditambahkan tulisan Undangan, tanggal dan tempat dilangsungkan resepsi pernikahan. Pada bagian tengah ditambahkan nama mempelai pengantin. Untuk design backgroundnya dicetak dengan gambar ukiran batik khas jawa yang terlihat samar.

Untuk bagian dalam kartu pernikahan ini terdiri dari 2 bagian. Bagian kiri berisi nama lengkap mempelai pengantin dan tanggal dilangsungakannya akad nikah. Untuk bagian kanan berisi tanggal dilangsungkannya respsi pernikahan. Untuk designnya, undangan ini didesign dengan tambahan ornamen batik di sisi kanan dan kirinya. 

Dan untuk bagian belakang undangan nikah ini merupakan kalender bulan April dimana bulan itu merupakan tanggal dilangsungkannya pernikahan mempelai pengantin. Untuk design backgroundnya, dicetak dengan gambar gunungan khas jawa.

Undangan pernikahan ini merupakan undangan softcover. Undangan ini memiliki bentuk lipat dua dengan posisi buka ke samping. Ukuran undangan ini sebesar 21 x 30cm yang dihitung pada undangan dalam posisi keadaan terbuka. Bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan undangan pernikahan ini adalah kertas ivory ketebalan 260gr. Untuk hasil undangan yang lebih maksimal bisa ditambahkan laminasi untuk lapisan undanganya, bisa laminasi doff, glossy maupun uv.

Untuk anda yang ingin memesan wedding card seperti diatas silahkan kirimkan email ke layanankedaigrafis@gmail.com atau hubungi kami di nomer berikut ini SMS/WA 0857 4081 2002, 0878 3816 1150, Pin BB D008D475. Jika anda ingin melihat langsung koleksi undangan nikah kami secara langsung, silahkan kunjungi kami di Jl. Perum Candi Gebang 2 no. 22 atau ke outlet cabang Jl. Kaliurang km 5.

 

Pernikahan memang syarat akan makna, terutama prosesi pernikahan adat tradisional. Bila kita tengok sebentar mengenai budaya pernikahan Jawa, pasti kamu sering mendengar istilah prosesi adat upacara Panggih. Upacara Panggih ini memang rumit dan panjang, namun tahukah kamu mengenai makna dibalik prosesi adat “Panggih” tersebut? Yuk simak ulasan berikut.

Panggih dalam bahasa jawa berarti bertemu, maksud bertemu disini adalah bertemunya dua pasang pengantin (pria dan wanita) di rumah wanita, untuk melaksanakan prosesi perkawinan secara adat. Upacara Panggih adalah upacara adat yang diselenggarakan dalam rangka menyambut peristiwa pernikahan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta. Dalam upacara ini banyak sekali simbolisasi dan sakralisasi dalam setiap prosesi upacaranya, yang kesemuanya bertujuan untuk kebaikan bersama kedua keluarga mempelai serta membentuk masa depan yang cerah bagi kedua mempelai.

Dalam melaksanakan upacara Panggih ini memerlukan alat-alat berupa,  Iringan Gending Jawa Gending adalah lagu tradisional jawa yang biasanya dinyanyikan sendiri atau diiringi oleh gamelan (alat music tradisinal) atau semacamnya. Selain gending diperlukan beragam sesaji diantaranya gantalan, bokor, telur ayam, kacar-kucur , dan kain sindur.

Sebagaimana upacara-upacara pernikahan pada umumnya, upacara panggih juga memiliki beberapa rangkaian tahapan yaitu:

1. Penyerahan Sanggan atau tukar kembang mayang. Mempelai wanita sudah lebih dulu didudukkan di pelaminan bersama kedua orang tuanya. Kemudian mempelai pria menyerahkan Sanggan dan Cikal kepada ibu dan ayah mempelai wanita, serta menukar kembang mayang.

2. Balangan suruh atau disebut juga dengan lempar sirih / sawat gantal. Disini keduanya harus saling mendahului melempar gantal tersebut, pengantin wanita mengarahkan ke kaki pria sebagai lambang tunduk kepada sang suami, sementara pengantin pria mengarahkan ke arah jantung pengantin puteri sebagai lambang kasih sayang. Mereka berusaha saling melempar terlebih dahulu, maksudnya adalah bahwa diantara mereka saling berlomba memberika jiwa-raga mereka, atau saling berlomba mendapatkan kemuliaan/keutamaan.

3. Ngindak tigan, Wiji Dadi” (injak telor jadi bibit). Pengantin pria berdiri dengan kaki diposisikan menginjak telor yang ditaruh di atas baki (nampan), sementara pengantin wanita jongkok di depannya. Upacara ini memiliki banyak makna, diantaranya: sebagai lambang peralihan masa lajang kedua pengantin yang akan memasuki kehidupan baru yang berat dan penuh tantangan dan juga sebagai simbol pemecahan selaput dara pengantin puteri oleh pengantin pria.

4. Sinduran atau Wijik Sekar Setaman. Pada tahap ini sepasang pengantin kemudian saling berdampingan, pengantin putri di sebelah kiri dan pria sebelah kanan. Ibu pengantin putri mengenakan dan memegangi sindur dari belakang, sementara ayahnya berada di depan pengantin berjalan di depan pengantin pelan-pelan. Dengan mengalungkan kain sindur di pundak kedua mempelai, adalah sebagai simbol menyatukan keduanya menjadi satu. Pasangan di tuntun menuju kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi tantangan hidup.


Related Poduct

Lihat Lebih Banyak Lagi >>